JAKARTA — Ribuan guru madrasah swasta yang tergabung dalam berbagai aliansi menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta. Massa menuntut pemerintah segera memberikan kejelasan nasib dengan memprioritaskan pengangkatan mereka menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), baik melalui jalur Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Sambil membawa berbagai atribut seperti spanduk, poster, dan bendera aliansi, para pahlawan tanpa tanda jasa ini menyuarakan jeritan hati mereka terkait ketimpangan kesejahteraan yang selama ini mereka alami.
Koordinator aksi lapangan menyatakan bahwa guru madrasah swasta kerap dianaktirikan dalam proses rekrutmen ASN nasional. Selama ini, kuota yang disediakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) dinilai sangat minim jika dibandingkan dengan jumlah guru honorer madrasah yang terus mengabdi dengan gaji jauh di bawah standar layak.
“Kami sudah mengabdi belasan bahkan puluhan tahun mendidik generasi bangsa, namun insentif yang kami terima seringkali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sebulan. Kami ke sini menuntut keadilan. Angkat kami jadi ASN!” teriak salah satu orator dari atas mobil komando.
Ada tiga tuntutan utama yang dibawa oleh massa aksi dalam demonstrasi kali ini:
Perwakilan dari Komisi VIII dan Komisi X DPR RI akhirnya menemui perwakilan massa aksi untuk melakukan audiensi di dalam gedung parlemen. Anggota dewan yang hadir menyatakan komitmennya untuk membawa aspirasi ini ke rapat kerja bersama Kementerian Agama dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB).
Pihak DPR mengakui bahwa kontribusi madrasah swasta sangat besar dalam menjaga pilar pendidikan berbasis agama di Indonesia, sehingga aspek kesejahteraan pengajarnya memang sudah sepatutnya menjadi prioritas negara.
Akibat adanya konsentrasi massa di depan gerbang utama DPR RI, arus lalu lintas di Jalan Jenderal Gatot Subroto arah Slipi sempat mengalami kepadatan parah.
Pihak kepolisian sempat memberlakukan rekayasa lalu lintas dengan mengalihkan kendaraan ke jalur busway dan jalur alternatif lainnya. Kendati demikian, aksi unjuk rasa berjalan dengan tertib, damai, dan membubarkan diri menjelang sore hari setelah perwakilan mereka selesai melakukan audiensi dengan anggota dewan. (Putri Amilatus Saadah)